Kebun Kata-kata

MENYAPA

June 30, 2008 · 4 Comments

Orang bilang pengalaman itu guru yang terbaik dan, bagi saya, kawan adalah pengalaman yang terbaik. Ya, kamu bisa saja berpendapat lain. Bolah-boleh dan sah-sah saja. Saya bukan orang yang memiliki banyak kawan, tapi saya belajar dari banyak orang tentang berkawan. Bgaimanapun dekatnya seorang kawan dengan diri kita, kawan adalah orang lain. Bila hati kita atau diri kita diibaratkan rumah, ada pintu-pintu yang tidak memungkinkan untuk dibuka sembarang orang. Sedikit apapun, kawan kita pasti mempunyai sesuatu yang tidak bisa kita ceritakan pada orang lain. Dan, sebagai kawan harusnya kita mengetahui hal itu dan menghormatinya.

Dulu saya adalah orang yang selalu ingin “telanjang” di hadapan kawan, begitu pula harapan saya terhadap orang lain. Tapi tidak semua keinginan kita dapat terpenuhi, karena kita hidup dengan orang lain yang tentu saja memiliki sesuatu yang tidak sama persis dengan kita. Baik ideologi, kepentingannya, harapannya, perasaannya, dll. Maka, dengan melihat perbedaan itu kita tidak bisa menafsirkan sesuatu dengan anggapan sama dan serupa dengan apa yang ada dalam pikiran kita. Misalnya, kawan kita mengganggap sesuatu hal sangat penting baginya, namun bagi kita itu adalah hal yang biasa. Selama sesuatu yang penting itu tidak mengganggu kita, ya..sebaiknya hormati saja pendapatnya.

Penting nggak penting ini memang sulit didefinisikan, karena melibatkan penafsiran, penerimaan indera, dan hati. Maka, penting nggak penting itu dikatakan sangat subjektif. Namun untuk beberapa orang berpikiran penting bagi dia juga harus penting bagi orang lain, begitu juga sebaliknya nggak penting untuk dia juga harus nggak penting untuk orang lain. Sekelompok orang akan merasa satu, apabila memiliki kepentingan yang sama, bukan? Akan tetapi, melihat kepentingan orang lain ini juga tidak boleh menutup kemungkinan melihat apresiasi orang lain tentang sesuatu yang dianggap tidak penting (aku yakin kamu cukup cerdas untuk memahaminya).

Baiklah, mari kita bicara tentang hal yang sangat sederhana. Bagaimana kalau kita mulai dengan MENYAPA! Seseorang akan mendapatkan kesan pertama kali dengan sapa. Terkadang dengan kalimat yang digunakan untuk menyapa, bisa-bisa orang akan mendapatkan proyek puluhan milyar. Tapi ada juga yang gara-gara menyapa, orang akan langsung dipecat dari pekerjaannya. Pernah juga, gara-gara menyapa orang langsung jatuh cinta. Di lain hari, cuma karena menyapa saja ia mendapat rejeki. Di masa lalu, hanya dengan menyapa saja, hati yang gundah dan sedih bisa sirna. Dan, masih banyak lagi contoh lainnya.

Menyapa tidak hanya melibatkan raut muka atau isyarat tangan saja (misalnya jabat tangan, melambaikan tangan, dsb). Lebih dari itu, menyapa melibatkan juga melibatkan kata-kata. Suatu hari saya bertemu dengan seorang kawan. Tulisannya baru saja dimuat di sebuah surat kabar. Dari sekian banyak tulisannya, baru satu tulisan ini yang dimuat di surat kabar. Memang tulisannya tidak terlalu luar biasa. Cenderung datar, tapi memang aktual. Seorang kawan saya yang lain melihatnya sedang berjalan menuju tempat kami berkumpul. Saya lihat mata kawan saya yang duduk di sebelah saya itu. “Hai…penulis! Apa kabar hari ini?”… Sapaan ini sangat sederhana, tapi memiliki daya sugesti yang luar biasa. Esoknya lagi…kawan saya yang tulisannya dimuat itu, sudah memiliki beberapa tulisan untuk dikirim lagi ke kantor surat kabar. Mungkin juga ia merasa, ia adalah penulis dan semangat menulisnya lebih besar daripada sebelumnya! Sebutan itu adalah penghargaan dan semangat, tapi juga bisa membuat orang lupa. Untungnya kawan saya itu bukan orang yang mudah terpuaskan.

Di lain waktu, ketika saya dan kawan saya jalan-jalan ke stand FKY di Benteng Vredenburg, kami bertemu dengan kawan yang lain. Hari itu kami sedang begitu penat dan butuh untuk saling bercerita setelah jalan-jalan. Kawan perempuan saya itu sangat menghormati orang lain. Meski ia telah sedemikian dekat dengan saya, bila saya sedang ada masalah ia tidak berusaha mengorek masalah saya. Ia akan paham kapan saya akan cerita dan kapan pula saya bungkam dengan masalah saya. Bila saya ceritakan pada orang lain tentang masalah saya itu, ia juga tidak merasa dilupakan sebagai kawan. Adalah hak seseorang untuk menceritakan apa yang ada dalam dirinya kepada orang lain. Ketika ia memperlakukan saya demikian, saya pun akan melakukan hal yang serupa. Karakternya yang demikian, sudah diketahui oleh banyak orang.

Suatu hari kami bertemu dengan dua orang kawan kami yang juga mengunjungi FKY. Sebagai kawan satu kampus dan sudah kenal lama, tentu saja kami saling mengetahui apabila kawan yang lain sedang dirundung masalah. Apalagi kalau masalah itu sudah menjadi konsumsi publik. Si empunya masalah tentu sangat tidak menginginkan masalah itu menjadi pembicaraan orang banyak, tapi mau bagaimana lagi? Banyak kepala, tentu juga banyak prespektif kan.

Nah…ketika bertemu muka, antar kawan tentu saling menyapa, bukan? Apa yang harus kita persiapkan untuk menyapa kawan yang sedang jadi sorotan itu?Ya…ini juga berkaitan dengan penting nggak penting menurut persepsi masing-masing kepala. Bila kita sudah tahu karakter kawan kita, tentunya materi yang dibutuhkan untuk menyapa juga disesuaikan donk. Terkadang menyapa orang dengan sesuatu yang sedang ingin dilupakannya menjadi sesuatu yang dapat menimbulkan masalah baru. Misalnya begini…bila kita sedang ingin melupakan anak kucing kita yang mati tertimpa tembok, lantas ada kawan yang menyapa kita ketika bertemu dengan perkataan, “Cie…yang baru kehilangan kucing…”. Ingatan tentang kucing yang super manis itu pasti akan muncul lagi dan…sedih lagi deh. Padahal si kucing yang mati tetap nggak bisa hidup lagi dan yang bisa dilakukan hanyalah melupakan kucing itu. Ya…meskipun bisa cari kucing lain yang lebih meeeooong….tapi kucing lama belum bisa dilupakan. Hai, sobat! Tidak pernah ada yang sama persis, kan?

Begitulah menyapa…ketika membuka mulut, pikiran juga harus kontrol. Kira-kira kalimat apa yang pantas untuk diucapkan. 

     

→ 4 CommentsCategories: Jalan-jalan

Djogja Selamanya!

April 30, 2008 · 7 Comments

Terkadang disayang orang menjadi begitu membosankan, sebab rasa sayang dapat berubah menjadi jerat bernama kekhawatiran!

Itulah yang terjadi padaku beberapa minggu ini. Aku tidak diijinkan naik gunung, padahal aku sangat ingin melihat Bromo dari dekat, aku tidak boleh ikut kelompok konservasi orang utan, padahal peduliku mungkin telah sebesar gunung, aku tidak boleh pergi terlalu jauh, padahal aku ingin bekerja di luar kota. Yah…semua itu dijawab oleh ibu dengan tiga kata, yang bagiku sangat menyakitkan, “Nanti kamu hilang!”

Sambil bercanda kawanku menambahi, ketika aku berikan alasan mengapa aku tidak bisa ikut dengannya, “Iya…kamu kan kecil…nanti kalau hilang sulit nyarinya….ha ah ha!”

Mungkin juga aku ditakdirkan untuk terus hidup di Jogja, lahir-besar-kawin-punya rumah-mati di Jogja deh!

Tapi banyak juga yang jatuh cinta sama Djogja. Mereka kuliah di Jogja, menemukan cintanya di Jogja, menikah di tempat asalnya, tapi kemudian bertempat tinggal di Jogja.

Seorang kawan bilang…”Eh, katanya kalau kamu tanpa sengaja mendengar bunyi drumband, tanpa wujud fisik. Itu lho…hantu drumband….katanya sih…bakal kerasan hidup di Djogja.”…. Ya, ada juga kawan lain yang bilang kalau suara drumband itu akan mengitari tempat tertentu di Jogja pada waktu pagi hari, bahkan di tempat yang tidak mungkin dilewati sekelompok barisan drumband atau bahkan seorang manusia sekalipun.

Kalau kamu pernah mendengarnya dan membuktikannya, ceritakan padaku ya…


Aku belum pernah mendengarnya. Tapi satu-satunya alasan yang membuatku tetap tinggal di Jogja adalah: Ibu!

→ 7 CommentsCategories: Jalan-jalan

Taklukan Playboy dengan Baca The Unbearable Lightness of Being

April 30, 2008 · 1 Comment

The Unbearable Lightness of Being juga telah difilmkan. Tapi percayalah, kalau kamu hanya nonton filmnya, kamu tidak akan setegang kalau membaca sendiri bukunya.

Milan Kundera membukanya dengan reflektif tentang ide pengulangan abadi yang dicetuskan Nietzsche. Gagasan tersebut sungguh mengerikan. Dalam sebuah dunia dengan pengulangan abadi suatu peristiwa, setiap gerak-isyarat membawa beban tanggung jawab yang tak tertahankan. Itulah yang ingin dikatakan Nietzsche, bahwa gagasan pengulangan abadi suatu peristiwa adalah beban yang paling berat (das schwerste gewicht) (hlm. 8) .

Gagasan pengulangan abadi suatu peristiwa menunjukkan suatu perspektif di mana terdapat sesuatu yang kelihatan berbeda dari yang kita ketahui: sesuatu yang bersifat fana itu muncul tanpa keadaan-keadaan yang meringankan kejadiannya. Keadaan-keadaan yang meringankan itu menghalangi kita untuk menjatuhkan suatu hukuman yang berarti. Dapatkah seseorang menghukum sesuatu yang terjadi hanya sesaat? Akhir kata, segalanya diselubungi oleh aura nostalgia, bahkan guillotine sekalipun (hlm 7). Demikian tulis Kundera.

Awalnya sama sekali terlihat bukan seperti novel kan? Ini justru seperti buku filsafat atau entahlah. But, it’s ok. Mari kita kunyah saja! Selanjutnya, Kundera membuka pintu sebuah kisah tentang Thomas, yang dilihatnya berdiri di depan jendela apartemen. Thomas adalah seorang dokter yang simpatik. Wajahnya ganteng, tubuhnya atletis, dan gaya bicaranya elegan. Walhasil, dokter ini digandrungi perawat dan perempuan-perempuan yang bertemu dengannya. Banyak juga perempuan yang telah tidur dengannya. Bagaimanapun, hanya ada satu perempuan yang tetap tinggal di hatinya: Sabrina!

Perempuan ini seorang pelukis yang ketika bercinta dengan Thomas selalu menyertakan topi hitam bundar milik kakeknya. Topi ini seperti sebuah identitas bagi dirinya. Sabinalah yang paling mengerti tentang Thomas. Tapi rupanya, bukan Sabina satu-satunya yang dikehendaki Thomas.

Suatu hari Thomas bertemu dengan Tereza, gadis yang sering membawa buku Anna Karenina ke manapun. Thomas bertemu dengannya di bar, ketika ia memesan sebuah minuman. Ada sesuatu yang menurut Tereza terdengar lucu. Sebuah kebetulan yang menggelikan. Ya, kebetulan Thomas (Tereza diundang ke kamar Thomas) tinggal di kamar nomer 6, Thomas juga harus pergi jam 6, dan Tereza juga akan pergi menemui Thomas pada jam 6 pula.

Bila membaca lebih jauh, kamu akan menemukan bagaimana hubungan cinta segitiga Tereza-Thomas-Sabrina berkembang dengan begitu harmonis. Dalam pikiran Tereza, penerimaannya atas Thomas adalah penerimaan yang apa adanya, maka sebuah kecemburuan berarti penolakan atas diri Thomas. “….Aku tahu kamu cinta aku. Aku tahu ketidaksetiaanmu bukan suatu tragedi…” (hlm. 83). Dan ia yakin, Thomas hanya bermain-main dengan tubuh perempuan selain dirinya, ia akan membiarkan Thomas seperti membiarkan Thomas menonton pertandingan sepak bola.

Lantas bagaimana dengan Sabina? Tereza dan Sabina adalah dua orang yang mencintai Thomas dengan rasa yang berbeda, namun (seakan) tidak ada perebutan diantara keduanya. Dan…Thomas, meski selalu bersama Tereza dan akhirnya mati bersama Tereza, ia juga tetap mencintai Sabina dengan cinta yang mungkin berbeda warna dengan Tereza.

Nah….mungkin kamu tidak sepaham dengan Tereza atau Thomas. Untuk itu kamu perlu mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Bagaimanakah asal mulanya, sehingga Tereza dapat sedemikian “leluasanya” membebaskan Thomas, yang jelas-jelas adalah suaminya.

Menurut Milan Kundera dalam bukunya Art of Novel, Tereza hidup bersama Thomas, tapi cintanya memerlukan mobilisasi semua keterasingannya. Thomas mencintai Tereza sebagai seorang bayi yang dikirimkan padanya, yang keranjang bayinya dilapisi ter.

Puncak kebahagiaan akan cinta kepada seseorang, dimaknai Kundera, sebagai kelembutan (kalu aku tidak salah). Kelembutan, menurutnya, adalah ruang artifisial yang sangat kecil sekali, tempat saling menyetujui bahwa kita ingin memperlakukan orang lain sebagai anak kecil. Mungkin alasan itu pula yang menyebabkan Thomas tidak dapat melepaskan Tereza dan selalu ingin mati bersamanya, meski pertemuan pertama Thomas dengan Tereza adalah pertemuan super singkatnya dengan perempuan.

Sebelum bertemu dengan Tereza, Thomas pernah sekali memiliki istri dan seorang anak laki-laki. Tidak lama mereka menjalin hubungan rumah tangga, Thomas bercerai. Perceraian itu menyisakan luka bagi Thomas, karena mantan istri Thomas selalu menghalangi ketika ia ingin menemui anak semata wayangnya. Ia memerlukan suatu kompromi atas rasa keinginan dan ketakutan terhadap wanita, oleh karena itu ia merekayasa apa yang ia sebut “persahabatan erotis”. Ia memberitahukan kekasih-kekasihnya: satu-satunya hubungan yang dapat membuat kedua belah pihak bahagia adalah hubungan tanpa kasih sayang dan tidak satupun di antara keduanya yang menuntut kehidupan atau kebebasan dari yang lainnya. (hlm. 20).

Atas alasan itu pula, Thomas sering memiliki hubungan gelap dan singkat, agar persahabatan erotisnya tidak berkembang menjadi perasaan cinta. Tapi alasan ini tidak berlaku untuk Tereza. Thomas begitu cemburu ketika mendapati Tereza berdansa dengan koleganya dan ia begitu mengkhawatirkan Tereza. Bahkan Tereza disewakan sebuah kamar yang begitu nyaman. Sebuah perlakuan yang begitu berbeda, yang mungkin tidak disadari Thomas. Hingga suatu hari ia sampai pada kesimpulan: bermain cinta dengan seorang wanita dan tidur dengan seorang wanita adalah dua hal yang berlainan, bukan saja berbeda tapi bertentangan. Cinta tidak membuahkan keinginan untuk bersetubuh, tetapi keinginan untuk berbagi tidur. (hlm 25).

Thomas memang mempunyai kebiasaan untuk tidak tidur dengan perempuan yang baru saja disetubuhinya. Sedangkan dengan Tereza, ia akan bersetubuh dan juga berbagi tidur dengannya. Thomas berbagai tidur dengan Tereza, memang diawali dengan ketidaksengajaan yang berkelanjutan menjadi kebiasaan. Setiap sehabis bercinta, Tereza dan Thomas akan tidur terlelap dan Tereza terus menggenggam tangan Thomas dengan erat (ini kebiasaan Tereza sejak kecil, bila tidur selalu menggenggam tangan ibunya).

Tidak semua perempuan dapat menerima kekasihnya seperti Tereza menerima Thomas yang playboy. Ya…memang laki-laki playboy adalah laki-laki yang paling menyebalkan. Bila kita kedapatan laki-laki buaya darat seperti itu, apa yang harus kita lakukan? Ada seorang kawan yang bilang…kalau laki-laki buaya darat ditakdirkan untuk dipermainkan oleh keinginan mempermainkan perempuan seumur hidupnya (ngeri kan?). Dia akan tersiksa justru karena keinginannya untuk terus mempermainkan seseorang. Continuitas tanpa pemberhentian adalah rasa sakit yang abadi. Ketersiksaan ini mungkin hampir sama dengan ketakutan ketika terjatuh dalam sumur tanpa dasar (he eh he…pernah baca Ghostboom?). Rasa ketakutan dan penasaran tanpa henti…hiiiii.

Kalau kita kebetulan dicintai laki-laki playboy…kan kita juga tidak akan tahu, apakah kita perempuan terakhir atau perempuan paling akhir, atau perempuan paling terakhir atau perempuan paling terakhir sekali? Ha ah ha…sulit kan memastikannya? Karena kita juga tidak tahu apakah dia playboy insaf atau playboy yang mencoba insaf? Siapa yang dapat menghentikannya. Tapi percayalah setiap orang pasti memiliki orang yang paling menarik dalam hidupnya, begitu juga makhluk bernama playboy ini. Dan, bagaimana mengatasi playboy? Kamu bisa pakai cara Tereza, tapi kamu juga bisa pakai caramu sendiri. Mau permainakan playboy dengan cara mempermainkannya, atau menjatuhkannya dengan kelembutan dan keperibadianmu yang tidak dapat ditemukan pad perempuan manapun? Yeah… up to you! Semoga masih ada orang waras yang dapat mengkahiri hidupnya hanya bersama satu hati.

Yo i….masih banyak yang bisa aku dapatkan dari The Unbearable Lightness of Being. Tapi tentunya tidak bisa aku ungkapkan semuanya di sini….baca sendiri donk……

→ 1 CommentCategories: rumpun tulisan

Buku Cinta Tiga Rasa I

February 13, 2008 · 2 Comments

Sore yang berangin. Pohon berbunga ungu di halaman kampus sedang lebat berbunga. Hari itu aku ada janji dengan seorang kawan. Janji perjumpaan karena sebuah buku. Sebelumnya ia memang sering membawakanku buku sepulang dari Jakarta. Dan, hampir semuanya habis aku baca. Mulai dari Wajah Terlarang-nya Latifa, Kota-kota Imajiner, Cinta Malika, Identitas, Vernon Good Little-nya DBC Pierre, Animal Farm-nya George Orwell, kumpulan puisi Bunglon!, dll.

Aku menunggu di bangku merah bersama kawan-kawanku. Aku merasa sepi bila menunggu sendiri, jadi sebelum dia datang mending aku gabung kawan-kawan. Satu demi satu kawanku datang bergabung mengitari bangku merah. Beberapa kawan lama yang aku rindukan dan lainnya kawan-kawan baru. Sore belum habis dan janji masih menggantung karena belum ditepati. Yah, dia datang juga. Dengan baju putih bergambar Pram, celana hitam dan tas ransel hitam yang selalu penuh buku. Rambutnya yang bergelombang itu mulai panjang, membuatku agak sulit mengenalinya. “Hey…di sini!” teriakku padanya. Tapi yang aku tuju malah sedang asik pencat-pencet keypet hp. SMS apa ya? Masak SMS aku? Waktu itu aku berpikir mungkin dia sungkan menghampiriku di tengah kawan-kawan yang sedang berkumpul begitu. Dasar pemalu! Tapi akhirnya dia datang juga. “He he he…aku baru naik bis tadi waktu kamu sms…sudah lama ya?,” katanya ketika semakin dekat. “Belum! Eh, kenalin ini teman-temanku,” sambil aku tunjuk satu per satu. “Eh, mana kawanmu yang mo dikenalin aku?,” yah…dia nagih deh. Memang sebelumnya aku janji mo kenalin dia dengan kawan perempuanku…kali aja jodoh…he he he… Lalu, aku kenalin dia dengan kawan-kawan perempuanku…tapi kok kayaknya dia datar aja…ah, nyebelin! “Dah yuk…ngeteh ja di sana…” aku ajak dia ngeteh sambil aku geret satu kawan perempuanku yang, menurutku, paling manis di sore itu.

Sudah pesan macem-macem…akhirnya kami ngobrol dan sampailah pada inti acara…cie… “Ini bukunya…,” kedua tangannya memegang ujung buku dan disodorkan padaku sambil sedikit membungkuk seperti orang Jepang memberikan sesuatu. “O…ini ha?,” jawabku dengan gaya serupa. “Bagaimana isinya? Bagus?,” pertanyaan klise sebenarnya. “Baca dulu donk…” Aku lebih senang dengan orang yang memberiku buku tanpa memberi kesan apapun tentang buku itu sebelum aku membacanya. Dengan demikian, orang itu menghormati penilaian orang lain dan tidak memaksakan penilaiannya pada orang lain. Kecuali apabila aku dan dia sudah membaca, apresiasi dan diskusi dapat dilakukan dengan juga menghormati satu dengan lainnya.

Daripada seseorang yang menyorong-nyorongkan buku padaku dengan embel-embel kata … “Bacalah buku di tanganku ini. Aku sudah membacanya dan ini bagus!”, aku lebih memilih seseorang yang memendam penilaiannya terlebih dahulu agar tidak mempengaruhi penilaianku. Bagiku, orang yang seperti itu seakan memaksakan pikirannya kepadaku tanpa melihat bagaimana pemikiranku tentang sesuatu.

Buku bersampul coklat muda dan terkesan ngepop itu berjudul The Unbearable Lightness of Being. Ini buku pertama di penghujung tahun 2007 yang aku baca. Menyusul kemudian buku Kacamata Berlensa Cinta yang diberikan seorang kawan di tengah hujan senja. Laki-laki kawan sekampusku itu memakai tas hitam di pundaknya dengan rambut basah dan terlihat tergesa-gesa. “Dian ini bukunya!,” katanya sambil memasukkan tangan ke tas hitam, yang mirip tasnya pak guru, dan mengeluarkan buku putih bergambar remaja Jepang. Yang perempuan membuat lingkaran dengan jari telunjuk dan jempolnya di depan mata kanannya dan yang laki-laki agak jauh di belakangnya setengah tidur dan menengok dengan agak malu.

Buku itu yang sejam lalu dikatakan seorang kawan sebagai buku plesetan pertama di Indonesia. Dia juga cerita, katanya buku itu seru. Penasaran juga aku, tapi plesetan yang bagaimana. Apanya yang diplesetkan? Alurnya? Nama tokohnya? Kalimatnya? Atau apanya? Seperti tuhan sedang ada di sampingku saja, belum sampai satu hari eh malah belum ada dua jam…tahu-tahu ada orang memberiku buku itu.

Malamnya, aku baca buku itu sampai tuntas. Penulisnya bernama dr. Ben…ya ternyata bener-bener seorang dokter. (Bagaimana isi novel pak dokter? Nanti aku tulis di Buku Cinta Tiga Rasa III).

Nah, yang terakhir…buku ini agak sulit aku pahami karena aku tidak terbiasa dengan gaya seperti itu. Ibarat makan…nie aku makan semangka berbiji. Aku ingin telan dagingnya, tapi bijinya agak mengganggu ketika mengunyah. Kalau bijinya ikut aku kunyah, rasa manis dagingnya bercampur rasa biji. Yah, mungkin itu tantangannya. Makan semangaka yuks….

Buku itu tiba di siang yang panas. Tidak pernah aku sangka sebelumnya. Dari mana pengirim buku itu tahu alamat kosku? Padahal aku jarang memberi alamat kos, kecuali pada kawan dekat saja (kemudian aku ingat satu orang).

(bersambung)

→ 2 CommentsCategories: Jalan-jalan

Hati-hati dengan Bumbu

January 23, 2008 · 1 Comment

Aku suka sekali mencicipi makanan. Sampai-sampai kawanku Asih bilang, “Dian itu suka makan makanan yang aneh-aneh,” katanya ketika ia menyodorkan tiwul saat ia mengajakku mengunjungi rumahnya di Wonosari. “Masak makanan seenak ini dibilang makanan aneh, bisa-bisa aja!,” jawabku sekenanya sambil terus menyambar nasi tiwul di meja.

Dulu sewaktu masyarakat di Gunung Kidul, dan mungkin juga di daerah lain, kekurangan beras, nasi tiwul ini menjadi penggantinya. Biasanya nasi tiwul dipasangkan dengan sayur tempe yang pedes luar biasa atau daun singkong rebus. Sekarang tiwul juga masih dapat dikonsumsi. Bila kangen dengan tiwul, datang saja ke pasar Bringharjo atau Demangan. hanya saja tiwul yang itu tidak bisa dimakan dengan lauk  karena sudah dimasak pakai gula merah.

Cara membuat tiwul relatif mudah. Singkong dijemur sampai keras, kemudian ditumbuk menjadi tepung. Nah, tepung itu yang kemudian dikukus setelah digilig dengan sedikit air biar bergumpal. Ini makanan sederhana, tapi kadang bikin kangen juga.

Sambil makan Asih bercerita tentang seorang kawannya yang sakit perut karena kepedasan sampai berak berkali-kali. Mulas! sampai-sampai di kawan satu itu kehabisan tenaga ke kamar mandi dan dehidrasi. Aku jadi ingat satu cerpen yang menarik tentang makanan. Tepatnya, tentang bumbu atau rempah-rempah yang bisa membunuh. Orang yang memakannya akan mati secara wajar dan kenyang. he eh he….

thearisan.com

Kutukan Dapur

AWALNYA Maharani berharap menemukan resep baru di museum kota, tapi inilah yang ditemuinya:

Pada suatu muasal yang jauh, sebuah kapal penangkap ikan Bugis remuk dihantam badai Atlantik. Satu-satunya yang tersisa, seorang lelaki muda dengan buntalan kulit berisi bumbu, diselamatkan kapal dagang Portugis. Mereka memberinya makanan Eropa yang serba tawar itu, membuatnya lari ke dapur dan menampilkan diri sepenuhnya sebagai penguasa mutlak bumbu-bumbuan. Malam itu seluruh penghuni kapal terbakar lidahnya, menemukan sensasi yang tak pernah ditemui bahkan sejak zaman nenek moyang mereka.

Di antara begitu banyak buku sejarah dan sejenisnya, hanya satu ensiklopedi Spanyol terbitan tahun 1892 yang menyebut nama lelaki itu, tak peduli sebesar apa pun sejarah yang ditimbulkannya. Dilupakan sejarah, tapi kepadanyalah kita mesti berterima kasih telah membuat para pedagang Barat berdatangan, bersama tikus-tikus yang menyelundup di kapal-kapal Spanyol, datang untuk membeli bumbu-bumbu tersebut dari tangan pertama. Itulah awal kerakusan Eropa, dan orang-orang Belanda bahkan membawa pula perusahaan besarnya kemari.

Sesungguhnya orang-orang Belanda yang kemudian menguasai pulau-pulau bumbu ini tak pernah sungguh-sungguh menguasai bumbu masak yang mereka dambakan. Pemberontakan dramatik Diah Ayu, sebagaimana akan diceritakan, merupakan bukti otentik mengenai hal itu.

***

Maharani tak pandai memasak dan merasa dikutuk suaminya untuk mendekam di dapur, dan sekali waktu di tempat tidur. Kini ia terpesona menyadari dirinya tinggal di negeri yang telah diciptakan Tuhan sebagai surga bagi segala yang tumbuh.

Dan segala yang tumbuh, hampir bisa dimakan. Kukatakan hampir, karena beberapa bisa bikin kau sekarat jika memakannya, tapi bikin kau hidup jika kau memakannya dalam keadaan sekarat. Itu rahasia-rahasia yang paling sulit, hanya dikenali jika kau telah mengenalnya selama berabad-abad, diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya.

Mati kelaparan merupakan hal konyol yang bisa kau lakukan di tempat ini, meskipun kenyataannya sering terjadi. Ada hutan lebat dengan buah-buahan yang bisa kau makan, juga daun dan bahkan batangnya, serta getahnya. Ada ladang-ladang pertanian. Ada sungai dan danau dan telaga di mana ikan berbiak lebih cepat dari manusia; dan jangan tanya berapa luas laut yang dimiliki. Dan hewan-hewan liar tampak sejinak merpati. Lemparkan sesuatu, dan ia akan tumbuh: jika bukan mimpi, tentunya surga.

Di sinilah orang seperti Alfred Russel Wallace tercengang-cengang pada ribuan spesies, yang hidup dan yang mati. Di sini pula orang seperti Eugene Dubois mengaduk-aduk yang pernah hidup. Tapi di antara semuanya, tentunya para pedagang yang segera berhitung berapa banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari negeri penuh harta karun ini.

***

Selama bertahun-tahun Maharani hanya tahu membikin anak, menyiapkan sarapan pagi, makan siang dan malam. Kini ia tahu orang Belanda pernah menetap selama lebih dari tiga abad.

Mereka mendirikan perusahaan, sebelum diambil alih kerajaan. Mereka mengirim seorang Gubernur Jenderal, yang segera mengirim mesin-mesin birokrasinya ke seluruh negeri: regent, asisten regent, resident dan kontroler. Mereka menaklukkan raja-raja kecil, menjadikannya bupati-bupati wilayah, dan bupati menaklukkan wedana, dan wedana menaklukkan lurah. Orang-orang Belanda juga menguasai pedagang-pedagang Cina, yang membeli hak memungut pajak dalam lelang untuk banyak komoditas: rempah-rempah, ternak, garam, juga candu.

Dengan cara itulah bisnis di masa itu dijalankan. Kau harus menanam apa yang mereka inginkan, dan tidak menanam apa yang tidak mereka inginkan. Kita juga membuat jalan-jalan panjang, memasang rel kereta api, membangun pelabuhan, karena itulah yang mereka inginkan. Itu mengawali banyak hal: pos, telegraf dan belakangan lampu gas serta telepon, dan surat kabar.

Di luar mesin birokrasi kolonial ini, ada juga orang-orang partikelir Eropa. Mereka pemilik perkebunan dengan budak-budak pribumi sendiri.

Semua gambaran itu merupakan panggung yang bagus bagi gelora pembangkangan kaum pribumi. Pahlawan-pahlawan dilahirkan, sekaligus digugurkan. Kita telah mengenal sebagian dari mereka, yang lukisannya dipajang di dinding-dinding sekolah. Di antara para pejuang itu, seorang perempuan melakukan pembangkangannya tanpa tombak dan bambu runcing. Ia adalah Diah Ayu, yang berperang dari dapurnya sendiri.

***

Maharani hanya mengenal sedikit resep dan sedikit bumbu. Kebanyakan dihapal dari majalah. Kini terpesona mengetahui seorang perempuan bisa menjadi pahlawan dengan menguasai bumbu masak.

Siapakah perempuan tersebut? Ia juru masak yang terkenal itu, seorang patriotik pujaan anak-anak. Apa yang kita kenal dari dongeng tentang perempuan ini, barangkali didengar sewaktu sekolah dasar, merupakan omong-kosong tak menentu.

Entah bagaimana para pendongeng sampai pada bualannya. Segala yang diceritakan tampak lebih banyak datang dari kepala mereka daripada dari data-data akurat tak terbantah. Sosok Diah Ayu tiba-tiba menjadi aneh, melankolis, dan menyedihkan. Bisa diduga ada upaya-upaya melenyapkannya dari sejarah, dan seandainya terselamatkan, apa yang tersisa hanyalah citra tak benar mengenai dirinya.

Inilah hal-hal salah yang kita kenal dan datang dari dongeng: ia dijual ayahnya pada seorang Belanda pemilik perkebunan karena fakta kecantikannya. Itu tidak benar. Boleh dikatakan ia tak begitu cantik, meskipun benar Belanda itu beberapa kali menidurinya sampai ia punya dua anak. Fakta yang sesungguhnya adalah, ia dibeli karena kemampuan luar biasanya mengelola bumbu, memasak, dan menghidangkan makanan lezat.

Hal salah lainnya: ia diam-diam memberi pelajaran membaca dan menulis pada para pelayan, dan para pelayan ke pelayan lain di rumah-rumah tetangga, hingga kemudian banyak pelayan rumah Belanda menjadi cerdas. Ia mengorganisir mereka dan melakukan pemberontakan di hari Kamis tak terlupakan itu. Itu tidak benar. Diah Ayu buta huruf. Tapi benar ia mengajari para pelayan. Apa yang sesungguhnya ia ajarkan adalah rahasia-rahasia dapur: bagaimana mengelola bumbu masak dengan benar.

***

Bagi keluarga-keluarga Belanda di tanah kolonial, seorang juru masak yang pandai tak hanya merupakan kekayaan keluarga, tapi bahkan harga diri. Mereka bisa memamerkannya dalam perjamuan-perjamuan malam. Itulah mengapa menjadi hal yang tak aneh jika perempuan-perempuan pribumi yang ahli dalam penanganan bumbu masak, mendapati diri mereka diperjual-belikan, atau diculik. Meskipun status mereka dalam keluarga tak pernah lebih baik dari seorang gundik, seorang juru masak pandai tak akan pernah dibiarkan meninggalkan rumah, apa pun risikonya.

Ada beberapa alasan mengapa hal itu terjadi. Pertama, perempuan-perempuan Belanda, sebagaimana lelaki-lelaki mereka, begitu menikmati kemakmuran yang tak terpikirkan di tanah kolonial. Mereka menjadi makhluk-makhluk pemalas, menghabiskan waktu di beranda rumah yang menghadap hamparan perkebunan teh, sambil membaca majalah mode yang dikirim langsung dari Paris. Kedua, bahkan seandainya ada perempuan Belanda mencoba mengenali resep-resep paling istimewa, ia tak akan pernah berhasil memasaknya. Hal ini sebagaimana dilakukan Nyonya Ruthie van Bloom, yang berkeliling mengunjungi keluarga-keluarga pemilik tukang masak-tukang masak terkenal, dan menuliskan resep-resep mereka dalam berjilid-jilid buku. Bukunya tampak meyakinkan, tapi ia lupa ada rahasia-rahasia tak terungkap di dalam bukunya.

Diah Ayu merupakan salah satu dari pemilik rahasia-rahasia tersebut. Ia bisa menciptakan segala sesuatu menjadi makanan mewah dan rahasianya terletak pada bumbu. Tentu saja tak bisa dilewatkan fakta bahwa di pulau-pulau ini begitu banyak hal bisa dimakan. Di sini bonggol pisang bisa kau makan, begitu pula batang belia pohon bambu, sebagaimana pucuk pohon kelapa. Belalang dan laron bisa dimasak dan terhidang di meja makan, sebagaimana siput dan katak. Sangat jelas di negeri ini tak pernah ada orang berdoa meminta manna, sebagaimana orang Israel memperolehnya dari Tuhan.

Tapi berhati-hatilah, ada rahasia-rahasia tersembunyi dalam menu makan siang yang melimpah-limpah seperti itu. Biji buah yang bisa kau jadikan kripik garing barangkali membunuhmu dalam tujuh hari jika dicampur cuka dan garam. Rahasia-rahasia ini tersembunyi di dapur, di tangan perempuan-perempuan yang menggerus bumbu dan merebus umbi-umbian. Beberapa adonan ini menjadi makanan para dewa yang begitu nikmat, beberapa merupakan penyembuh-penyembuh ajaib, dan sisanya pembunuh-pembunuh tanpa ampun. Merekalah, para juru masak, yang bisa membedakannya.

Mengetahui semua ini Maharani jadi sangat malu, sebab tahu pasti dirinya bukan kebanggaan keluarga di dapur. Di musium kota ia semakin suntuk berharap memperoleh pengetahuan tentang bumbu masak dan mengangkat harkatnya sendiri.

***

Sebab kini Maharani tahu, melalui pengetahuannya yang luar biasa itulah bagaimana Diah Ayu melakukan pemberontakannya.

Ia bisa menciptakan adonan-adonan aneh yang bisa membuat seorang lelaki kehilangan birahi untuk selama-lamanya: ia berhasil melakukan itu setelah si Belanda memberinya dua anak. Pada tahap berikutnya, ia semakin memberanikan diri mengolah bumbu-bumbu paling berbahaya, yang bisa membunuh orang dengan begitu wajar. Ia memilih tamu-tamu keluarga tuannya sebagai korban-korban pembunuhan. Tentu saja ia melakukannya secara diam-diam, dengan adonan pembunuh yang tersembunyi di dalam sayur. Dan untuk menghindari kecurigaan-kecurigaan tertentu, ia meramu adonan-adonan yang membuat orang mati seminggu, atau dua minggu, setelah memakannya.

Metode kerjanya sangatlah luar biasa, dan sanggup menjatuhkan korban bahkan lebih banyak daripada perang di front. Setahun sejak pembunuhan pertama, ia telah membunuh lima puluh dua orang Belanda totok. Itu sebagaimana dilaporkan surat kabar mengenai “kematian-kematian wajar yang mencurigakan” di sekitar Batavia. Barangkali satu dua orang bukan korbannya, tapi jumlah yang lebih teliti sangat mustahil untuk disebutkan.

Apa yang kemudian membuat pembangkangannya jadi mengerikan adalah fakta bahwa ia mengajari pelayan-pelayan itu rahasia-rahasia dapurnya, dan pelayan-pelayan itu mengajari pelayan-pelayan di rumah tetangga dalam kesempatan pertemuan-pertemuan pendek mereka. Dengan cepat rahasia tentang bumbu masak, yang sebelumnya hanya diketahui sedikit orang dari generasi-generasi terpilih, tiba-tiba telah diketahui hampir semua juru masak di kota itu. Adalah Diah Ayu yang menjadikannya senjata pembunuh, dan benar bahwa ia mengorganisir semua tukang masak tersebut dalam satu pemberontakan di suatu hari Kamis. Mereka membunuh tuan-tuan mereka secara serempak, tidak dengan pisau dapur, tapi dengan kuah jamur.

Itu hari paling kelabu dalam sejarah kolonial, di mana 142 orang Belanda totok mati dalam sehari. Terjadi di tahun 1878.

***

Akhir dari kisah hidup Diah Ayu si tukang masak telah banyak diketahui. Bahkan seandainya ada sedikit kesalahan, itu tak banyak berarti. Satu hal yang pasti, cukup alasan untuk membuatnya tak lagi disebut-sebut dalam sejarah, kecuali mitos yang sangat menyesatkan. Alasan itu tentu saja akan tampak sangat kelelaki-lelakian, tapi begitulah kenyataannya.

Memang benar ada perempuan-perempuan (dan juga lelaki) yang meniru metodenya. Memasukan arsenik ke makanan, misalnya, dan kemudian makanan itu meracuni orang sampai mati. Tapi metode Diah Ayu jauh lebih bersih, mempergunakan bumbu-bumbu masak yang dikenal sehari-hari, dengan hasil kematian teramat wajar. Itulah barangkali alasan paling masuk akal dilenyapkannya sejarah tentang Diah Ayu si juru masak dari kenangan paling samar sekalipun, kecuali mitos-mitos sesat tentang dirinya.

Hari ini sejarah itu telah dikuaknya dan rahasia dapur ada di tangannya. Maharani pulang dari musium kota dan tahu bagaimana membunuh suaminya di meja makan. Ia akan terbebas dari kutukan dapur dan tempat tidur. Dengan segera.

2003]

Cerpen ini aku baca tahun 2005 dari seorang kawan yang aku jumpai di Tasikmalaya. Ingatanku tentang cerita ini tetap segar karena begitu menarik. Bumbu itu bisa membunuh orang!

→ 1 CommentCategories: Jalan-jalan

Sebelas Januari

January 12, 2008 · 2 Comments

Sebelas Januari Bertemu/Menjalani Kisah Cinta Ini/Naluri Berkata Engkaulah Milikku/Bahagia Selalu Dimiliki/Bertahun Menjalani Bersamamu…

Hari ini sebelas Januari. Saatnya pentas Gigi……yeah, hari ini aku bahagia. Kawan-kawanku dari luar kota datang ke Jogja. Walhasil, rumah kami jadi ramai banget, apalagi mereka pada datang bawa gitar. Ada yang memang berprofesi sebagai pemusik jalanan, ada yang masih kuliah, dll. Mereka datang dengan harapan masing-masing. Seperti Dul, misalnya, dia datang untuk melihat konser Gigi, yang katanya, terbesar ini. Ada juga yang datang karena memang fans berat lagu-lagu Gigi.

Jogja bakal ramai malam ini. Tidak hanya Gigi yang bakal menghentak udara Jogja, The Rock dan Mulan Jameela juga nggak mau ketinggalan. Mereka akan manggung di Bosche, ruang VVIP.

Terkadang aku juga mempertimbangkan kebijaka si artis untuk kemudian mengidolakannya. Aku kurang suka sama Dhani secara personal, tapi memang lagunya masuk banget ke telingaku. Lantas, apakah aku akan datang ke konser The Rock? Wow…sepertinya tidak.

Wah…milih yang mana ya?

Nyatanya, meski dari rumah aku bersenandung lagu 11 januari, tetep rodaku ngelinding ke TBY. Ada pentas kawan-kawan Garasi. Aku juga ketemu kawab-kawan. Nah, selepas pertunjukan kami nongkrong sebentar.

“Kamu mo nonton Mulan Jameela ga?” kata seorang kawan.

“Ih, enggak dech…aku alergi Dhani. Meski musiknya lumayan, tapi aku menolak poligami. Aku juga nggak suka Mulan!” jawab kawanku yang lain.

Memang, musik Dhani enak didengar, tapi rupanya kawan-kawanku tidak sekadar mendengarkan musiknya, tapi juga mempertimbangkan personilnya.

Bagaimana denganku? Sayangnya, aku tidak pernah punya idola penyanyi atau grup band tertentu. Kalo musiknya cocok di telingaku, ya oke-oke aja. Tapi untuk membeli kasetnya, aku tetap mempertimbangkan personilnya donk. ha ah ha….

Kendati demikian, aku juga nggak bajak lho…mentang-mentang nggak suka personilnya.

Enjoy this day…

Ini sebelas Januari dan Jogja diserbu anak muda dari segala penjuru. Ramai dan lumayan panas sih, tapi aku cukup bahagia.

→ 2 CommentsCategories: Rendevous

Festival Lima Gunung VI: Tidak Ada Perbedaan

January 7, 2008 · No Comments

Dibuka dengan Srandul, tari yang konon dimainkan sebagai media perlawanan terhadap kolonial Belanda. Tarian itu khas dan memesona karena muatan-muatan dialognya yang dapat membangkitkan semangat bekerja. Srandul yang dimainkan seniman tradisi dari Sumbing ini berbeda dengan Srandul yang dipentaskan di Yogyakarta, karena masyarakat Sumbing tidak terpengaruh oleh peradaban kraton.

Event yang digelar dengan sokongan dana tanpa bantuan pemerintah ini menjadi agenda tahunan komunitas lima gunung yang terdiri dari Gunung Merbabu, Merapi, Andong, Menoreh dan Sumbing. Untuk kali keenam ini, Festival Lima Gunung (FLG) VI diadakan di lereng Gunung Sumbing, Krandegan, Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah pada awal bulan Agustus 2007.

Kali ini diadakan dua kali pembukaan, yaitu pembukaan secara lokal di hari pertama yang menyuguhkan kesenian lokal khas Gunung Sumbing dan di hari kedua dengan pembukaan yang diawali dengan ritual Sumbing untuk meminta ijin pada Eyang gadung Mlati sebagai pepunden Gunung Sumbing. Di hari pertama, setiap kelompok kesenian juga wajib melakukan semacam permohonan pamit dengan melakukan pertunjukan pertama tepat di depan makam Eyang Dipo Drono.

Di hari pertama, kesenian yang dipentaskan khas Gunung Sumbing. Mulai dari tari kuda lumping putri, warok putra, kuda lumping putra, warok putri, lengger anak, hingga topeng ireng. Semakin sore, kabut datang semakin cepat. Semakin dingin pula Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. Dusun ini termasuk berada di puncak tertinggi Gunung Sumbing. Meski dingin kabut menyergap seputar arena pementasan, para pemain tidak lantas patah semangat. Kostum dan asesoris penaripun tetap dikenakan seperti apa adanya tanpa merasa risih dengan keadaan alam pegunungan Sumbing yang dingin.

Dalam hawa dingin gunung, penonton yang datang dari penjuru mata angin datang berbondong-bondong berkumpul di sebuah lapangan dan lahan bekas klembak. Mereka yang tidak mendapat tempat di dekat area pementasan, tidak sungkan untuk naik ke atap rumah atau mencari pematang sawah yang lebih tinggi.

 FLG VI yang diketuai Haris Kertorahardjo ini mengangkat tema “Matematika Manajemen Budaya Gunung” dan mengkhususkan pada jagad anak. Menurut Haris Kertorahardjo, FLG VI mengangkat jagad anak karena ajang pementasan kesenian dari lima gunung ini dapat mendidik anak-anak untuk lebih memahami tentang seni tari, teater, dan puisi. “Anak-anak dapat mencontoh dan berbuat lebih baik lagi karena dia juga melihat berbagai kesenian, semisal, Topeng Ireng di setiap daerah.” Selain mementaskan kesenian dari lima gunung, FLG VI juga menghadirkan kesenian dari luar agar dapat dinikmati juga.

 Kesenian yang sengaja dihadirkan dalam FLG VI ini antara lain Laras Madyo dari Ilmu Giri dan Topeng Ireng Segoro Gunung dari Pundong, Bantul, dan pentas wayang suket oleh Slamet Gundono. Kesenian yang berasal dari luar wilayah lima gunung ini sengaja dihadirkan untuk menambah suasana meriah, dapat bertukar pengalaman dan saling belajar tentang kesenian-kesenian dari daerah lain. “Dengan mengajak kelompok kesenian dari daerah yang terkena gempa itu juga dapat membangkitkan semangat mereka lagi untuk berkarya dalam kesenian,” ungkap Sitras Anjilin, salah satu budayawan yang juga ikut memprakarsai terwujudnya Festival Lima Gunung.

Kesenian yang dipentaskan dalam setiap festival lima gunung ini tetap. Artinya dalam setiap festival, selalu ada dayakan, pentas topeng ireng, kuda lumping, trunthung, soreng, dll. Di luar kesenian itu, lima gunung mempunyai banyak sekali kesenian tradisi yang unik dan layak dipentaskan. Hanya saja seturut Gus Yusuf karena keterbatasn waktu, dana, dan faktor-faktor lain sehingga hanya itu saja yang dipentaskan. Kendati kesenian yang dipentaskan tetap, gerakan dan kostum yang disajikan selalu mengalami modifikasi-modifikasi, sehingga kesenian itu mengalami perkembangan.

 Rendra yang turut hadir dalam FLG VI ini menyatakan, “Perkembangan itu baik adanya, karena kesenian menjadi wadah kreatifitas masyarakat dan sebagai ajang respon mereka terhadap keadaan di sekitarnya.” Kesenian yang menjadi media penyampaian inspirasi dan kegembiraan masyarakat ini sebaiknya tidak ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan kelompok atau partai tertentu. Penjagaan itu dapat dilakukan oleh mereka, para seniman tradisi, masyarakat pemilik kesenian itu, dan semua yang peduli terhadap kemurnian kesenian sebagai wadah keratifitas masyarakat.

 Kegiatan yang diselenggarakan dengan dana sponsor ini sayang untuk dihentikan begitu saja. Meskipun untuk penyelenggaraannya panitia tidak bergantung hanya dengan dana sponsor pemerintah daerah, FLG tetap harus diselenggarakan bagaimanapun caranya. “Kita masih tetap semangat untuk terus menyelenggarakanlah,” demikian tegas Sitras Anjilin yang diiyakan oleh Gus Yusuf.

 Festival Lima Gunung ketujuh rencananya akan digelar di gunung Merapi dengan dana dari sponsor. Semangat masyarakat lima gunung jelas terbaca dalam gaung lima gunung yang setiap acara selalu diteriakan di awal acara. Apakah acara ini akan tetap terlaksana hingga puluhan kali dengan hanya menyertakan kesenian yang itu-itu saja?

→ No CommentsCategories: Jalan-jalan

Lebaran, Tema Segar Sepanjang Masa

November 12, 2007 · 5 Comments

Setiap lebaran selalu menyisakan cerita menarik dan unik. Terlebih lagi lebaran disertai dengan tradisi mudik. Momen kepulangan ini terkadang menjadikan beberapa orang menjadi sesuatu yang tragis, sebab mudik tidak hanya berarti perjumpaan pada keluarga jauh, tapi juga ajang mengetahui tingkat kesuksesan seseorang di tanah rantau. Seberapa suksesnya seseorang dapat dilihat dari “salam tempel” yang diberikan pada sanak saudaranya atau oleh-oleh yang menyertainya, atau bahkan mobil pakaian, rumah, dsb.

 

Mudik biasa dilakukan pasca hari raya fitri atau lebaran. Sebab itu mudik seakan menjadi milik mereka yang merayakan Idul Fitri. Tapi senyatanya, mudik melampaui batas religiusitas tersebut. Mudik menjadi kebutuhan semua orang yang memerlukan perjumpaan atau yang oleh Budi Darma dikatakan sebagai “kembali ke akar keluarga dan tanah kelahiran”. Dan, ketika seseorang dengan alasan tertentu tidak melakukan mudik ketika lebaran tiba, tidak jarang orang menyebutnya sebagai pembelot atau lupa pada keluarga. Begitulah mudik menjadi hal penting dan sangat berkaitan dengan hubungan kekeluargaan.

Mudik, sebuah realitas yang selalu menarik untuk diangkat. Setiap lebaran tiba, ada saja sastrawan yang menulis tentang kejadian lebaran atau mudik. Seturut sejarah sastra, tema ini sudah ditulis para sastrawan sejak 1920. Sebut saja Soeman HS dengan cerpennya Kasih Tak Terlarai, kemudian disusul dengan cerpen Nur Sutan Iskandar, Armijn Pane, dll. Setidaknya penulis yang mengangkat tentang tradisi mudik atau hal yang berkaitan dengan lebaran didominasi oleh sastrawan beragama Islam. Padahal persoalan besar di hari lebaran tidak sekadar permasalahan agama yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan tuhan. Lebaran lebih menarik dilihat dari sisi sosialkulturalnya.

Seperti Putu Wijaya, misalnya. Dalam kumpulan cerpennya berjudul Bali (2004), ada satu cerpen berjudul Lebaran yang menarik untuk disimak. Rama, tokoh dalam cerpen itu, adalah seorang perantau yang meninggalkan ‘udik’-nya untuk mengadu nasib di ibu kota. Sepuluh tahun sudah bekerja, tapi ia masih juga menjadi orang biasa. Pikiran orang di kampung halaman saat mendengar Rama bekerja di kota besar, tentunya muluk-muluk. Paling tidak ketika mudik Rama akan membawa mobil mewah atau oleh-oleh yang tidak sedikit. Lantas, apabila itu tidak terlaksana, bisa jadi keluarga akan jatuh merek. Dengan alasan itu pula, akhirnya Rama menunda kepulangannya lagi dan mungkin akan begitulah seterusnya. Demikian Rama mengejar kesuksesan yang pasti akan diukur tatkala mudik lebaran.

Lebaran bukan hanya momen yang menyisakan kesan dari perjumpaan. Idul Fitri menjelma menjadi waktu yang begitu penting. Tidak lagi sekadar ibadah sholat sunnat sebagai tanda masuknya hari pertama bulan syawal, tapi juga bermakna politis. Hal-hal politis lain yang berkaitan dengan lebaran juga tidak luput dari tangkapan sastrawan. Setidaknya Sides Sudyarto DS telah menulisnya.

Shalat Lebaran Kawanan Tahanan Politik Dalam Sebuah Kamp Konsentrasi judul cerpen itu. Sides bicara tentang sholat yang melebihi untuk tujuan beribadah. Sholat dapat mempengaruhi secara psikologis orang-orang di sekitarnya, meretas batas sosial, kultural, dan politis. Seperti yang ditulisnya dalam cerpen tersebut, … “Ternyata, manusia, lelaki dengan pakaian seragam yang mempergagah dirinya dengan senjata, lengkap dengan peluru dan sangkur tajam, sanggup menangis, melihat orang menghadap tuhan. Mungkin bukan karena mereka sendiri tidak bersalat, tetapi karena mereka “kaget”, bahwa orang-orang yang menjadi korban teori Revolusi, ternyata masih bisa ber-Tuhan (hlm. 126).

Sholat lebaran di kamp konsentrasi tentunya tidak semudah sholat lebaran di luar sana. Dalam tempat terkurung itu, para tahanan muslim mendirikan sholatnya tanpa baju bersih, apalagi sajadah. Bila mereka sudah terkekang dari kemerdekaannya sebagai warga sipil, mengapa tapol itu juga harus terjerat ketika akan berhubungan dengan Tuhannya? Untuk itu, Sides lantas menulis, “Saya duga salah satu bukti negara terbelakang ialah negara di mana orang-orangnya susah sekali untuk mendapatkan haknya untuk mendirikan shalat.” (hlm. 132).

Demikianlah lebaran titik yang ditentukan oleh waktu dan terjadi setiap setahun sekali. Tema dengan momen yang sangat bergantung dengan waktu seperti halnya seperti lebaran atau mudik ini memang begitu inspiratif. Waktu menjadi semacam penanda yang begitu relatif adanya. Sebagaimana orang India memaknai waktu sebagai hal yang sangat humanis, sebab begitu personal. Dan, waktu yang tentu saja dapat pula dikaitkan dengan ruang, menjadi misteri besar yang selalu menarik untuk diungkapkan. Seperti juga seorang filsuf dan teolog, Paul Tillich melukiskan waktu: Time is our destiny. Time is our despair, and time is the mirror in which we see eternity.

→ 5 CommentsCategories: Jalan-jalan

Thongthongsot, Hantu Aktivis Antikorupsi?

October 31, 2007 · 2 Comments

Kemarin aku menghabiskan waktu di perpustakaan St. Ignatius bersama kawanku Asih. Dia mencari data tentang Suwardi Endraswara. Sampai ketemu dengan sebuah buku yang menarik. Judul buku itu begitu menggoda Dunia Hantu Orang Jawa tulisan Suwardi Endraswara yang diterbitkan Penerbit Narasi, Yogyakarta. Awalnya kawanku itu hanya ingin tahu tentang profil Suwardi Endraswara yang ada di halaman belakang buku tulisannya. Tapi judul buku itu menarik untuk kemudian dibaca isi bukunya.

Sedang asyik-asyiknya baca, tiba-tiba dia ketawa. Aku yang duduk di depannya jadi kaget. “Ini menarik, Dian! Kamu tahu nggak kalau hantu lokal itu tidak dapat mengganggu orang luar. Artinya, bule-bule atau orang luar negeri itu atau orang yang berasal dari luar jawa, tidak akan mempan diganggu sama hantu lokal! Ya, mereka mana tahu yang namanya gendruwo, tuyul, dll.”

“Nah, kalo orang luar negeri itu, gimana? Apa tidak bisa diganggu karena hantunya bingung ga bisa bahasa inggris atau jepang, misalnya? Ha ha hah…!”

“Ya, mungkin saja!”

“Eh, tahu film mumi-mumi itu nggak? Mumi kan masuk kategori hantu dengan bahasa mesir. Makanya peneliti atau filolog atau arkeolog yang tertarik dengan misteri piramit itu wajib bisa membaca tulisan hierograf atau tulisan mesir!”

Ada satu hantu dalam khasanah perhantuan orang Jawa yang bernama thongthongsot. Aku mengenal nama ini waktu KKN di Pakem dari seorang temenku yang wajahnya nggak kalah serrem dengan hantu amatir di televisi. Waktu kami bertiga pulang dari pos menuju penginapan, dia bilang dengan lantang… “Awas lho…nanti digondol thongthongsot!!!”. Di desa tempat kami KKN memang dikenal dengan keangkerannya, apalagi ada satu pohon kelapa yang luar biasa. Kata penduduk setempat di bawah pohon itu sering ada gundul pringis…hi hi hi…

Bagiku waktu itu nama thongthongsot begitu konyol. Nama hantu kok bagus, seperti nama badut saja. Coba ejalah…thong thong sot….aku membayangkan sosok gemuk dengan pantat besar, pipi tembab, bibir tebal, mata melotot, dan berjalan dengan kaki pendek. Yah, jadinya kayak semacam Pretty Asmara di film Saras 008. Inget ga?!

Makanya setelah KKN nama yang paling aku ingat adalah THONGTHONGSOT…ga ada yang lain. Sementara kawan-kawan perempuanku punya pacar baru atau ada kenangan bersama dengan laki-laki. Aku malah punya kenangan dengan satu nama yang bagiku unik: Thongthongsot!

Dalam buku tulisan Suwardi Endraswara, thongthongsot ini ternyata berhati baik. Begini ya… Thongthongsot adalah hantu berbadan manusia berkepala hewan. Hantu ini akan menggoda pada orang-orang yang menduduki jabatan, tetapi hatinya tidak bersih. Itulah sebabnya, suatu saat hantu ini bisa mengganggu kursi yang diduduki pejabat kotor.

Nah lho….

Aku jadi berpikir apa iya hantu ini berasal dari para aktivis antikorupsi ha ha ha…Diskusi kami akhirnya tiba pada rencana pembuktian apakah benar thongthongsot ini hantu baik yang berasal dari para aktivis. Kami berencana untuk memanggil thongthongsot itu dan mewawancarainya dengan pertanyaan-pertanyaan detail. Ha ha ha…siapa tahu si thongthongsot bisa membantu kami memecahkan masalah mengapa negara ini termasuk penghasil koruptor terbesar sedunia.

Tapi pertanyaan besarnya….bagaimana caranya memanggil thongthongsot dan bagaimana kita tahu itu thongthongsot atau bukan?

Wow…kami berdua jadi ketawa sampai seisi ruang baca nengok semua. Asih kemudian mengungkapkan idenya. “Begini, dalam buku ini dikatakan bahwa hantu akan memberi semacam kode-kode atau isyarat-isyarat untuk berkomunikasi. Untuk melatih kepekaan kita sebaiknya sering jalan-jalan at midle of the night ke tempat-tempat sepi, seperti kuburan, sungai, sawah…”

Menurutku praktiknya menjadi sulit dan memerlukan waktu yang tidak sedikit. Kepekaan itu bersifat relatif dan belum tentu kami dapat berkomunikasi dengan thongthongsot karena di malam hari itu kan banyak hantu berpatroli. Eit…maksudnya bergentayangan…ada ide lagi!

Bagaimana kalo minta bantuan jailangkung. Tuh hantu kayaknya paling asyik. Dia suka pesta dan datang ga diundang, pulangnya ga diantar. He he he…”Masalahnya ni hantu kan kita undang, berarti kita juga harus nganterin dia…kalau dia tidak diundang, kan pulangnya juga ga diantar…”seloroh Asih. Wah, bener juga…

Repot juga yah…sekarang pembicaraan kami jadi beralih ke korupsi. Bukannya bermaksud untuk rasis atau apapun. Ini kami sedang membicarakan analisisnya Suwardi Endraswara yang luar biasa itu. Jadi, kan akhirnya dengan pikiran nakal kami…membuat semacam kesimpulan…kalau hantu lokal Jawa hanya bisa mengganggu orang lokal, kenapa masih ada saja korupsi yang dilakukan orang lokal Jawa. Ya, pastinya ada juga yang dilakukan orang luar jawa, tapi nie kita sedang bicarakan tentang hantu jawa dan orang jawa yang jadi objeknya. Atau thongthongsot sudah angkat tangan dengan koruptor berdarah Jawa? Ha ah hah…wah, jadi banyak dugaan.

Thongthongsot menjadi pembicaraan menarik karena menurut Suwardi, hantu satu ini tidak hanya bermain di wilayah religiousitas, tapi juga di ranah politik karena terkait dengan korupsi di tataran pejabat.

Terlepas dari apakah analisis Suwardi benar atau salah, menurut kami apapun bentuknya hantu itu tetap menakutkan. Biarpun aku orang Jawa, tapi kalau melihat hantu Eropa atau Jepang ya tetap takutlah. Paling tidak manusia dan hantu memiliki aura atau hawa yang berbeda dan itu membuat pengaruh psikologis yang berbeda. Bertemu lain makhluk tentu bukan hal biasa, apalagi mahkluk itu tidak bersifat ordinary…ya, aku juga akan merinding kalau bertemu dengan ular, misalnya karena ular termasuk makhluk yang ga sehari-hari aku temui. So, hantu dari manapun asalmu, pasti aku akan mempunyai reaksi yang tidak biasa. Kecuali mereka yang percaya dan taqwa pada Tuhannya, sebab manusia adalah makhluk tertinggi dari semua ciptaan Tuhan.

→ 2 CommentsCategories: Jalan-jalan

Gengsi Bersedekah

October 7, 2007 · 4 Comments

Ramadhan bulan penuh berkah, katanya. Tidak hanya pintu surga yang dibuka lebar-lebar, tapi juga pintu maaf, kerendahan hati dan penahanan emosi. Wow, hebat bener bulan ini. Makanya itu dikatakan sebagai bulan suci. Dengan alasan bahwa bulan ini menjadi ajang bagi-bagi rejeki pula, sebagian orang berpikir ini adalah momen yang tepat untuk memanfaatkan orang baik untuk membagi-bagikan sebagai hartanya, atau orang yang menuju tobat dengan membersihkan hartanya.

Dari itu, aku melihat di bulan ini saja, bisa sampai sehari didatangi 3 kali peminta sumbangan. Apapun bentuknya. Mulai dari yang dengan suara iba bilang…”paring-paring…”, “Kulo nuwun…kami dari pondok pesantren…..”, “Permisi, saya dari tim pembangunan masjid….” sampai pada “Selamat siang….saya dari panti asuhan….”. Wah, ibuku yang selalu di rumah jadi bingung menanggapinya. Terkadang beliau, tidak membukakan pintu, karena tidak terlalu percaya dengan yang begituan. Terkadang pula, bila ada tetangga yang kebetulan ada di depan rumah…tetangga itu akan bilang…”Situ rumahnya orang katolik, Mas….”. Kata-kata ampuh yang bikin si mas-mas itu balik kanan, mundur teratur.

Bukan karena pelit sebenarnya. Bukan pula karena tidak punya uang (karena terkadang mereka mau menerima sekadar satu-dua ribu saja).Tapi penolakan itu lebih sebagai respon ibuku tentang kemalasan atau ketidakkreatifan orang menciptakan kerja. Ibu lebih senang pada mereka yang meski dengan tenda bolong-bolong berusaha menjual makanan di pinggir jalan. “Lebih keliatan usahanya…meski kita ga tahu dia curang apa tidak…”

Nah, suatu sore, ketika aku dan kawanku pergi jalan-jalan sambil nunggu buka puasa, kami menemukan sebuah warung yang luar biasa menyedihkan. Temanku yang berjilbab itu bilang…”Dian, kamu pengen buka di mana?”. Aku bilang, “Di sini saja…”, waktu itu buka memang masih 30 menit lagi. Sebenarny, kami masih bisa berkeliling cari tempat. Dia membelalakkan mata…”Ih, aku mau mencret…ni kayaknya ga bersih nih, Yan…”. Aku bilang, kita lihat aja dulu. Kalo kamu jadi mencert, aku traktir kamu di warung ayam bakar.

Dan, kami masuk…duduk di sebuah bangku kayu sederhana, bertembok gedhek (anyaman bambu), beralas tanah dan dengan penerangan lampu (mungkin 25 watt). Temanku yang biasa makan di rumah makan dengan penerangan lampu yang terang, jadi agak apriori. Ha ah aha…Kalo kamu mau buka ma aku…ya harus mau yang kayak gini-gini nih….ha ha ha…batinku…

Lalu sambil menunggu buka aku katakan padanya. “Begini…kebersihan memang penting, aku tahu itu. Tapi aku percaya ma lambungku, ma zat asam di dalamnya yang bisa bikin mampus bakteri, dan aku percaya nadanku sekuat petani untuk mencerna sekilo jagung rebus sekalipun….ha ha ha…becanda! artinya, kita ini kan orang kuat, girl…aku ajak kamu ke sini karena aku yakin kamu sekuat Xena…(dia senyum-senyum)…kamu ga punya sakit tifus kan? ini warung kalo ga ada yang beli…mereka besok mo makan apa? menurutku sekali-kali kita makan di tempat seperti ini. Ini namanya ikut memajukan perekonomian mikro…ha ha hah…(yang dengerin jadi pengen ketawa)…kalo kita beli di rumah makan kesukaanmu melulu…penjualnya bisa cepet tambah kaya, lha yang begini-begini….mo makan apa? air matanya sendiri aja ga sempat keluar!”

Dia lalu diam dan sesekali melirik pisang goreng di sampingku. “Nah…ni ada maknan kesukaanmu…kalau tetep mencret…ntar aku buatin oralit…aku suapin ke kamu!” begitulah cara berbagi yang sederhana menurutku. Membeli di warung sederhana, untuk sedikit membantu penghasilan orang kecil. Kalau kita kasih uang tanpa pengorbanan, bisa jadi itu akan melukai harga dirinya atau buat dia menjadikan peminta-minta sebagai pekerjaan tetapnya.

Aku ga tahu apakah itu disebut sedekah atau nggak. Ini aku kutipkan dari Republika (Jumat, 19 Mei 2006), sedekah artinya “Sedekah asal kata bahasa Arab shadaqoh yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Juga berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah SWT dan pahala semata. Sedekah dalam pengertian di atas oleh para fuqaha (ahli fikih) disebuh sadaqah at-tatawwu’ (sedekah secara spontan dan sukarela).”

Sungguh aku ga mengharapkan pahala dari semua ini. Masa bodoh mau dikasih pahala apa enggak, masa bodoh juga mo masuk surga apa neraka. Kalaupun nanti aku masuk neraka, aku akan masuk dengan cinta. Yang jelas dengan begitu aku jadi lebih tenang.

So? gimana menurutmu? Jangan didik bangsa ini jadi orang malas dan bodo kan?

→ 4 CommentsCategories: Melihat Jogja